Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Manusia Modern Tertua Asia Tenggara Ditemukan

Manusia Modern Tertua Asia Tenggara Ditemukan
Asia Tenggara merupakan salah satu pusat populasi dunia dengan 590 juta manusia tinggal di kawasan ini. Namun, siapakah manusia modern tertua yang menempati daerah ini?

Peneliti antropologi dari University of Illinois telah menemukan jawabannya. Mereka menemukan tengkorak manusia modern yang digali dari goa di Pegunungan Annamite di Laos. Umur fosil diperkirakan mencapai 63 ribu tahun.

"Inilah manusia modern paling tua di Asia Tenggara," ujar ahli antropologi dari University of Illinois, Laura Shackelford, yang ikut dalam penelitian ini.

Penemuan tengkorak menarik mundur kronologi sejarah migrasi manusia ke kawasan khatulistiwa yang subur tersebut 20 ribu tahun lebih awal.

Shackelford bersama tim menemukan tengkorak tersebut pada 2009 sebagai bagian dari proyek penggalian arkeologi pertama di Laos sejak tahun 1900. Tim juga menemukan beberapa fosil manusia goa lain di pegunungan Annamite yang menempati kawasan itu 16 ribu tahun lalu.
Menurut dia, ahli arkeologi sebelumnya telah menemukan banyak fosil manusia di Cina dan beberapa kepulauan di Asia Tenggara. Fosil-fosil tersebut diklaim berusia hampir sama dengan manusia dari Annamite. Namun, kata dia, ilmuwan masih meragukan akurasi pengukuran usia fosil-fosil itu. Belum lagi beberapa fosil tidak menunjukkan ciri-ciri fisik manusia modern.

"Usia fosil dari Annamite telah dihitung dengan baik dan memiliki ciri-ciri fisik manusia modern," ujar dia.

Kepastian karakteristik fisik diketahui melalui rekonstruksi dan pemeriksaan mendalam terhadap tengkorak. Sedangkan kepastian umur ditentukan melalui penghitungan kandungan uranium dan thorium yang menunjukkan tengkorak telah berusia 63 ribu tahun.

Sayangnya, tidak ditemukan artefak di goa tempat penemuan. Hal ini mengindikasikan lokasi tersebut bukan tempat berlindung atau lokasi penguburan. Ia berhipotesis, fosil ini merupakan manusia yang meninggal di tempat lain, lalu hanyut dan terdampar di dalam goa.

Pengukuran umur tanah di sekitar fosil menunjukkan waktu sekitar 46-51 ribu tahun. Usia tanah yang lebih muda 15 ribu tahun ketimbang fosil sesuai dengan skenario yang ada di dalam pikiran peneliti.

"Bisa saja fosil tertanam di luar goa selama kurun waktu tersebut."

Temuan Shackelford bersama peneliti lainnya mengubah cara pandang manusia mengenai migrasi manusia keluar dari Afrika yang dimulai 150-200 ribu tahun lalu. Asia Tenggara dan Australia menjadi salah satu daerah tujuan migrasi, manusia berjalan menyusuri pantai menuju dua kawasan ini. Di kemudian hari, manusia menjauh dari pantai menuju daerah tinggi, seperti yang dilakukan manusia Annamite.

"Mereka pindah ke utara, mencari daratan yang berbeda dari yang pernah diketahui moyangnya."

Lebih menarik lagi, temuan ini mendukung teori genetika yang menindikasikan manusia modern menempati Asia Tenggara setidaknya sejak 60 ribu tahun lalu. "Inilah bukti fosil pertama yang mendukung bukti genetika," kata dia.

Hati-hati Kedelai dapat Merusak Gigi

Hati-hati Kedelai dapat Merusak Gigi
Susu kedelai memang rendah lemak bila dibandingkan dengan susu sapi. Namun sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa potensi susu kedelai merusak gigi lebih besar. Riset itu memperlihatkan bakteri yang ditemukan dalam mulut menghasilkan asam lima hingga enam kali lebih banyak ketika mereka mengkonsumsi susu kedelai daripada susu sapi.

Asam dalam mulut berkontribusi pada pembentukan plak pada gigi, yang akhirnya menyebabkan pembusukan gigi dan pembentukan lubang. 

Ilmuwan yang terlibat dalam riset tersebut menyatakan temuan ini menunjukkan bahwa minuman yang terbuat dari kacang kedelai berpotensi lebih tinggi untuk menyebabkan gigi berlubang dibanding susu sapi. Kendati begitu, masih perlu penelitian lebih mendalam sebelum ilmuwan mengetahui dengan pasti apakah susu kedelai benar-benar merusak gigi karena riset ini baru dilakukan dalam cawan petri di laboratorium.

William Bowen, profesor emeritus mikrobiologi dan imunologi di Center for Oral Biology, University of Rochester, yang tidak terlibat dalam riset itu, mengatakan bahwa potensi merusak gigi yang dimiliki masing-masing substansi tergantung pada bagaimana Anda mengunakannya. Minum segelas susu kedelai, misalnya, kemungkinan besar tidak merusak gigi. Tapi membiarkan bayi minum susu kedelai dalam botol sepanjang hari dapat menyebabkan hal itu. Sebaliknya, susu sapi diketahui tidak memicu gigi berlubang, tak peduli seberapa banyak susu dikonsumsi. 

"Temuan ini mencurigakan, tapi butuh lebih banyak bukti untuk mendukung penelitian tersebut," kata Bowen.

Eric Reynolds, peneliti dari Dental School, University of Melbourne di Australia, dan timnya memilih empat merek minuman berbahan dasar kedelai, dan dua merek susu sapi untuk eksperimen mereka. Masing-masing susu kemudian dicampur dengan bakteri Streptococcus mutans yang ditemukan dalam mulut manusia dan biasanya diasosiasikan dengan lubang gigi. 

Mereka menemukan bahwa susu kedelai, yang telah ditambah bakteri, menjadi lebih asam dalam 10 menit. Sebaliknya tingkat keasaman susu sapi tidak berubah setelah diberi bakteri itu.

Para peneliti tidak memasukkan saliva (air liur) dalam eksperimen ini. Padahal, kata Bowen, saliva dapat menghasilkan efek untuk mengatasi tingginya asam yang diproduksi susu kedelai.

Orang Tua Mewariskan Kecerdasan Anak

Orang Tua Mewariskan Kecerdasan Anak
Sebuah studi baru mengklaim bahwa 40 persen kecerdasan anak diturunkan dari orang tua. Temuan tentang kecerdasan pada diri seseorang terus saja menuai perdebatan apakah itu hasil produk alam atau hasil didikan.

Para peneliti dari University of Queensland menggunakan data genetik dan skor IQ dari ribuan anak di empat negara. Mereka menemukan bahwa sekitar 20 hingga 40 persen dari variasi IQ anak karena faktor genetik. "Perkiraan dari informasi DNA memang lebih rendah dari studi keluarga. Tetapi kesimpulan kami konsisten bahwa kecerdasan anak adalah hasil warisan," kata Dr Beben Benyamin.

Dr Benyamin dan rekan menganalisis sampel DNA dan skor IQ dari 18 ribu anak berusia 6 sampai 18 tahun dari Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka mencari setiap korelasi antara pola perbedaan DNA anak-anak dan pola perbedaan IQ mereka.

Temuan menunjukkan bahwa gen yang dikenal sebagai FNBP1L secara signifikan berkaitan dengan kecerdasan anak. Gen yang sama sebelumnya telah ditampilkan sebagai gen yang paling signifikan dalam memprediksi kecerdasan orang dewasa.
Biasanya, ketika melihat bagaimana faktor genetik mempengaruhi sifat individu, ilmuwan lebih memilih mencari varian gen yang dikenal sebagai single-nucleotide polymorphisms (SNPs). Gen ini memberikan informasi genetik yang lebih tepat. Namun, studi ini tidak menemukan varian gen SNP tunggal kuat yang dapat memprediksi kecerdasan anak.

"Tapi, ketika melihat efek gabungan dari semua SNP, kami dapat mengestimasi kontribusi genetik sekitar 20 hingga 40 persen terhadap perbedaan IQ," kata Dr Benyamin. Itu berarti bahwa kemungkinan banyak gen berkontribusi terhadap kecerdasan anak-anak. Masing-masing memiliki efek kecil, tetapi sifatnya kumulatif. Temuan ini juga dapat membantu peneliti untuk lebih memahami cacat intelektual.

Gempa Bumi Menghasilkan Emas

Gempa Bumi Menghasilkan Emas
Air yang berada dalam celah akan menguap selama gempa bumi. Yang lebih mengejutkan lagi, air tersebut menyimpan emas. Fenomena ini berdasarkan model yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience edisi 17 Maret 2013. 

Dion Weatherley, seorang ahli geofisika di University of Queensland, Australia mengatakan bahwa model tersebut menyediakan mekanisme kuantitatif untuk hubungan antara emas dan kuarsa.

Ketika gempa bumi melanda, lapisan tanah akan bergerak, pecah dan membentuk celah. Celah yang besar akan memiliki patahan kecil yang panjang. Air seringkali mengisi celah itu dan patahan itu.

Sekitar 10 kilometer di bawah permukaan dengan suhu dan tekanan yang luar biasa, air membawa konsentrasi tinggi karbondioksida, silika dan elemen berharga lainnya seperti emas.

Selama gempa bumi, celah tersebut akan terbuka lebar dengan tiba-tiba. Ini seperti menarik tutup panci bertekanan. Air di dalam ruang kosong itu langsung menguap dan memaksa silika membentuk mineral kuarsa. Sedangkan emas akan keluar bersama-sama cairan menuju permukaan.
Para ilmuwan telah lama menduga bahwa penurunan tekanan tiba-tiba dapat menjelaskan hubungan antara emas yang tersimpan dan celah kuno. Weatherley mengatakan bahwa emas hanya akan tertinggal sedikit setelah gempa bumi karena cairan bawah tanah hanya membawa paling banyak satu bagian per juta dari elemen berharga. Namun, zona gempa seperti celah Alpine Selandia Baru, salah satu zona gempa tercepat di dunia, bisa membangun mineral berharga itu dalam 100 ribu tahun.

Anehnya, kuarsa tidak punya waktu banyak untuk mengkristal. Sebaliknya, mineral yang keluar bersama cairan akan berbentuk nanopartikel. Bahkan bisa jadi berupa zat seperti gel yang berada di dinding celah. Nanopartikel kuarsa tadi kemudian baru bisa mengkristal dari waktu ke waktu. "Besar kecilnya gempa bumi yang sangat sering terjadi di sistem sesar dapat menjadi pendorong utama pembentukan emas," kata Weatherlay.

Namun, gempa bukan satu-satunya sumber emas. Gunung berapi dan pipa saluran air di bawah tanah memicu untuk menghasilkan logam mulia. "Di bawah gunung berapi, sebagian besar emas tidak diendapkan dalam celah yang aktif selama gempa bumi. Ini mekanisme yang berbeda," ujar Jamie Wilkinson, seorang ahli geokimia di Imperial College London di Inggris, yang tidak terlibat dalam penelitian.